Gowa, Sulsel – Bagi kebanyakan orang, tanah seluas 25 hektar mungkin dipandang sebagai aset berharga untuk kebun, perumahan, atau investasi besar. Namun bagi H. Yampa Kadir, tanah itu adalah jalan pengabdian. Sudah tujuh tahun lamanya, ia merelakan lahannya dijadikan Tempat Pembuangan Sampah (TPA) sementara demi warga di sekitar tempat tinggalnya.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Di masa lalu, warga sekitar sering membuang sampah di pinggir jalan poros atau ke parit-parit kecil. Bau menyengat dan tumpukan plastik yang berserakan menjadi pemandangan sehari-hari.
“Rasanya sudah tidak nyaman lagi, apalagi kalau musim hujan, sampah bisa hanyut ke halaman rumah,” kenang salah seorang warga, Rabu (1/10).
Kepedulian yang Lahir dari Kesadaran
Di tengah kegelisahan itu, H. Yampa Kadir mengambil langkah sederhana namun besar dampaknya: membuka lahannya sebagai tempat pembuangan. Sejak saat itu, jalan-jalan kampung jadi lebih bersih, dan warga punya tempat yang layak untuk membuang sampah.
“Bagi saya, lebih baik tanah ini bermanfaat untuk orang banyak. Kalau hanya dibiarkan kosong, apa gunanya? Dengan cara ini, minimal warga tidak lagi bingung soal sampah,” ujar H. Yampa Kadir dengan rendah hati.
Suara Warga
Warga sekitar menyambut langkah ini dengan penuh syukur. Dg Nina, salah seorang ibu rumah tangga, mengatakan bahwa keberadaan TPA tersebut sangat membantu.
“Kami sangat terbantu. Tadinya bingung mau buang sampah di mana, kadang terpaksa di pinggir jalan. Sekarang sudah ada tempat yang jelas dan bersih,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Apresiasi Aktivis
Kisah H. Yampa Kadir juga mendapat sorotan positif dari kalangan aktivis. Ketua LSM, Rahmayadi, menilai sikap dermawan itu sebagai teladan.
“Kepedulian seorang dermawan menjadikan lahannya TPA adalah langkah nyata problem solving. Ini bukan hanya soal sampah, tapi juga tentang menjaga kesehatan lingkungan dan kualitas hidup warga,” jelasnya.
Dari Sebidang Tanah Jadi Harapan Bersama
Kini, setiap pagi dan sore, warga datang bergantian membawa sampah rumah tangga mereka ke lokasi TPA. Bagi mereka, tempat itu bukan sekadar lahan pembuangan, tetapi juga simbol kepedulian seorang tetua kampung yang memikirkan nasib orang banyak.
H. Yampa Kadir mungkin tak pernah mencari nama besar, tapi tindakannya telah membuatnya dihormati sebagai sosok dermawan yang peduli lingkungan. Dari tanah pribadinya, ia mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kebersihan adalah wujud kasih sayang terhadap sesama.
Tim JAMC Gowa


